Semua artikel
CPNS7 menit baca

Tips mengerjakan TIU CPNS: deret angka, silogisme, dan hitung cepat

Enam contoh soal TIU dengan cara cepat: deret angka, silogisme, soal analitis, dan hitung cepat — plus kapan harus melewati soal supaya waktu tidak habis.

Pensil merah di atas lembar latihan perkalian yang sebagian sudah dijawab

TIU sering jadi bagian yang paling ditakuti di SKD CPNS. Bukan karena soalnya mustahil, tapi karena 35 soal bernalar harus selesai di antara 75 soal lain dalam 100 menit yang sama. Kabar baiknya, TIU juga bagian yang paling cepat naik kalau dilatih dengan benar.

Jawaban singkat: Kunci TIU adalah mengenali pola, bukan menghitung dari nol. Untuk deret angka, cek selisih, kelipatan, lalu pola selang-seling. Untuk silogisme, gambar hubungan "semua" dan "sebagian" lalu buang pilihan yang tidak pasti benar. Untuk soal analitis, mulai dari syarat yang paling mengikat. Untuk hitung cepat, ubah angka ke bentuk yang mudah (pecahan, perkalian 10, selisih kuadrat). Nilai ambang TIU yang dipakai pada seleksi terakhir adalah 80, setara 16 soal benar dari 35.

Seperti apa soal TIU di SKD?

TIU terdiri dari soal verbal (sinonim, antonim, analogi, silogisme, analitis), numerik (deret, hitung cepat, perbandingan, soal cerita), dan figural (gambar). Setiap jawaban benar bernilai 5, salah atau kosong bernilai 0. Peta lengkap materinya ada di kisi-kisi SKD CPNS.

Di bawah ini enam contoh soal yang kami tulis sendiri, lengkap dengan cara berpikir yang paling cepat.

Bagaimana cara cepat mengerjakan deret angka?

Urutan pengecekan yang paling efisien:

  1. Selisih antar suku (tambah/kurang tetap).
  2. Selisih bertingkat (selisihnya membentuk pola sendiri).
  3. Kali atau bagi, termasuk kali lalu tambah.
  4. Selang-seling: suku ganjil dan genap punya pola masing-masing.

Contoh 1 — kali lalu tambah

3, 7, 15, 31, 63, …

Selisihnya 4, 8, 16, 32 — berlipat dua. Itu tanda pola kali. Cek: 3 × 2 + 1 = 7, 7 × 2 + 1 = 15, dan seterusnya. Suku berikutnya 63 × 2 + 1 = 127.

Contoh 2 — selisih bertingkat

2, 5, 11, 20, 32, …

Selisihnya 3, 6, 9, 12 — naik 3 setiap kali. Selisih berikutnya 15, jadi jawabannya 32 + 15 = 47.

Contoh 3 — selang-seling

4, 10, 8, 15, 16, 20, …

Kalau selisihnya kacau (+6, −2, +7, +1, +4), pisahkan suku ganjil dan genap:

  • Suku ke-1, 3, 5: 4, 8, 16 → dikali 2.
  • Suku ke-2, 4, 6: 10, 15, 20 → ditambah 5.

Suku ke-7 masuk kelompok ganjil, jadi jawabannya 16 × 2 = 32.

Kebiasaan yang membantu: tulis selisihnya di kertas buram di bawah deret. Pola yang tidak terlihat di kepala sering langsung kelihatan di kertas.

Bagaimana cara mengerjakan silogisme tanpa terkecoh?

Silogisme menguji apakah kamu bisa menarik kesimpulan yang pasti benar dari premis, bukan yang mungkin benar atau terdengar masuk akal.

Contoh 4

Semua pegawai yang lulus pelatihan mendapat sertifikat. Sebagian pegawai bagian keuangan tidak mendapat sertifikat. Kesimpulan yang tepat adalah …

Logikanya: kalau lulus pelatihan, pasti dapat sertifikat. Maka siapa pun yang tidak dapat sertifikat, pasti tidak lulus pelatihan. Premis kedua menyebut sebagian pegawai keuangan tidak dapat sertifikat, jadi:

Sebagian pegawai bagian keuangan tidak lulus pelatihan.

Jebakan yang sering muncul di pilihan:

  • "Semua pegawai bagian keuangan tidak lulus pelatihan" — terlalu luas, premisnya hanya "sebagian".
  • "Sebagian pegawai yang mendapat sertifikat bukan pegawai keuangan" — mungkin benar, tapi tidak bisa dipastikan dari premis.
  • "Pegawai yang tidak lulus pelatihan tidak mendapat sertifikat" — membalik arah premis pertama. Bisa saja ada yang dapat sertifikat dari jalur lain.

Aturan pegangan: "Jika A maka B" sama dengan "jika tidak B maka tidak A", tapi tidak sama dengan "jika B maka A" atau "jika tidak A maka tidak B".

Bagaimana menyelesaikan soal analitis (susunan posisi)?

Soal analitis memberi beberapa syarat lalu menanyakan satu posisi. Kesalahan paling umum adalah mencoba semua kemungkinan dari awal. Lebih cepat: mulai dari syarat yang paling mengikat, lalu uji sisa kemungkinan yang sedikit.

Contoh 5

Lima peserta — P, Q, R, S, T — duduk di satu baris kursi bernomor 1 sampai 5.

  • Q duduk tepat di sebelah kanan P (nomor kursi Q satu lebih besar dari P).
  • R tidak duduk di kursi paling ujung.
  • T duduk di kursi bernomor genap.
  • S duduk di kursi nomor 1.

Siapa yang duduk di kursi nomor 3?

Langkahnya:

  1. S di kursi 1 — sudah pasti.
  2. T di kursi genap: 2 atau 4.
  3. Coba T = 4. Kursi tersisa 2, 3, 5. P dan Q harus berdampingan, jadi P = 2, Q = 3, dan R terpaksa di kursi 5 — padahal R tidak boleh di ujung. Gugur.
  4. Maka T = 2. Kursi tersisa 3, 4, 5. R tidak boleh di 5, dan P–Q harus berdampingan: satu-satunya susunan adalah R = 3, P = 4, Q = 5.

Susunan lengkapnya S, T, R, P, Q. Jawabannya R.

Gambar lima kotak kecil di kertas buram. Mengisi kotak jauh lebih cepat dan lebih jarang salah daripada membayangkannya.

Bagaimana trik hitung cepat yang aman?

Soal hitung cepat hampir selalu dirancang supaya ada jalan pintas. Kalau kamu mulai mengalikan bilangan panjang secara manual, kemungkinan besar ada cara yang lebih singkat.

Contoh 6

24% × 375 + 0,125 × 64 = …

  • 24% × 375: ubah urutannya menjadi 375 × 24 / 100. Karena 375 × 4 = 1.500, maka 375 × 24 = 9.000, dibagi 100 = 90.
  • 0,125 adalah 1/8, jadi 0,125 × 64 = 64 / 8 = 8.

Hasilnya 98.

Beberapa bentuk yang layak dihafal:

BentukJalan pintas
0,125 · 0,25 · 0,5 · 0,751/8 · 1/4 · 1/2 · 3/4
49 × 5150² − 1² = 2.499
25 × angkaangka × 100 / 4
a% dari bsama dengan b% dari a (mis. 24% dari 375 = 375% dari 24)

Dan satu trik penyelamat: lihat angka satuan dan perkiraan besarnya. Sering kali hanya satu pilihan yang angka satuannya cocok, sehingga kamu tidak perlu menghitung sampai tuntas.

Kapan sebaiknya melewati soal TIU?

Karena semua soal benar bernilai sama (5 poin), soal deret yang selesai dalam 30 detik sama berharganya dengan soal analitis yang memakan 3 menit. Aturan praktis:

  • Kalau setelah sekitar 1,5 menit belum menemukan arah, tandai, lewati, dan kembali nanti.
  • Jangan biarkan satu soal sulit memakan waktu yang bisa dipakai untuk tiga soal mudah.
  • Sebelum waktu habis, isi semua soal yang tersisa. Salah dan kosong sama-sama 0, jadi menebak tidak merugikan.

Pembagian waktu yang lebih rinci ada di strategi waktu 100 menit SKD.

Cara melatih TIU supaya benar-benar naik

  • Latih per subtopik dulu, baru campuran. Kamu perlu tahu apakah yang lemah itu deret, silogisme, atau soal cerita.
  • Catat waktu, bukan hanya benar-salah. Soal yang benar tapi butuh 3 menit tetap masalah.
  • Baca pembahasan soal yang benar juga. Kadang kamu benar karena kebetulan, atau ada jalan yang lebih cepat.

Tryout CPNS di Kerjago mengambil 35 soal TIU per sesi dari bank soal, dengan pembagian sinonim, antonim, analogi, silogisme, analitis, deret, hitung cepat, dan soal cerita — semuanya dengan pembahasan.

Pertanyaan yang sering muncul

Berapa soal TIU yang harus benar untuk lulus?

Dengan nilai ambang 80 yang dipakai pada seleksi CASN terakhir, kamu perlu minimal 16 soal benar dari 35. Targetkan lebih dari itu sebagai cadangan, dan cek ambang resmi di pengumuman seleksimu.

Bolehkah membawa kalkulator saat SKD?

Tidak. Kalkulator dan perangkat elektronik termasuk barang yang dilarang dibawa ke ruang ujian; ketentuan soal alat tulis dan kertas hitung mengikuti tata tertib di lokasi tes. Karena itu, latihlah hitung cepat tanpa kalkulator sejak awal.

Soal TIU mana yang sebaiknya dikerjakan lebih dulu?

Yang paling cepat untukmu — biasanya sinonim, antonim, dan deret sederhana. Soal analitis dan soal cerita yang panjang lebih aman dikerjakan setelah yang mudah selesai.

Apakah menebak di TIU merugikan?

Tidak. Jawaban salah bernilai 0, sama dengan kosong. Jangan biarkan ada soal yang tidak diisi.


Uji kecepatan TIU-mu dalam kondisi ujian sungguhan: kerjakan tryout CPNS gratis di Kerjago — 100 menit, dinilai seperti SKD, dengan pembahasan setiap soal.