Semua artikel
Interview9 menit baca

Interview teknis: yang sebenarnya dinilai bukan jawabanmu

Pewawancara sering tahu kamu tidak akan selesai. Yang mereka ukur adalah apa yang kamu lakukan saat buntu — dan itu bisa dilatih.

Dua orang menelaah kode bersama di depan layar komputer

Kamu diberi soal. Kamu tidak tahu jawabannya. Ada orang menatapmu.

Panik yang muncul di detik itu terasa seperti bukti bahwa kamu tidak kompeten. Padahal itu justru bagian yang sedang diuji — dan bukan bagian yang kamu kira.

Yang sebenarnya diukur

Ini yang tidak pernah dibilang ke kandidat: pewawancara teknis biasanya sudah tahu kamu mungkin tidak sampai ke jawaban akhir. Soal yang mereka pakai sering memang tidak selesai dalam 45 menit.

Yang mereka nilai:

  1. Kamu ngapain waktu buntu. Ini yang paling penting. Di pekerjaan nyata kamu akan buntu tiap minggu. Mereka ingin tahu perilakumu di titik itu — karena itulah yang akan mereka lihat setiap hari.
  2. Kamu nanya nggak sebelum ngerjain. Soal yang bagus sengaja ambigu. Yang langsung ngoding tanpa bertanya adalah orang yang akan membangun fitur yang salah selama dua minggu.
  3. Kamu bisa dikoreksi nggak. Pewawancara akan memberi petunjuk. Kandidat yang mendengar dan menyesuaikan jauh lebih menarik daripada yang ngotot.
  4. Baru terakhir: bisa nggak.

Kandidat yang gagal biasanya bukan karena tidak bisa. Tapi karena diam 10 menit, mengoding sesuatu yang tidak diminta, atau menolak petunjuk.

Bicara. Dari awal.

Kesalahan tunggal terbesar: berpikir dalam diam.

Dari luar, orang yang diam terlihat sama persis dengan orang yang tidak tahu apa-apa. Pewawancara tidak bisa membaca pikiranmu, dan yang ia tulis di catatan cuma "tidak komunikatif".

Ucapkan semuanya. Termasuk kebingunganmu:

"Oke, saya pikir dulu keras-keras ya. Yang paling gampang di sini itu nested loop, tapi itu O(n²). Saya rasa bisa lebih baik pakai hash map — cuma saya belum yakin gimana handle duplikatnya. Boleh saya coba dulu yang brute force, baru kita perbaiki?"

Kalimat itu, sebelum satu baris kode ditulis, sudah memperlihatkan: kamu melihat solusi naif, kamu tahu kelemahannya, kamu punya arah, kamu jujur soal ketidakpastian, dan kamu mengajak bicara.

Itu 80% dari penilaian, dan kamu baru 30 detik.

Tanya dulu, selalu

Soal apa pun. Tanya dulu.

  • "Inputnya bisa kosong nggak?"
  • "Angkanya bisa negatif?"
  • "Datanya seberapa besar? Ribuan atau jutaan?"
  • "Ini jalan sekali atau berulang terus?"

Ini bukan basa-basi. Di banyak interview, jawabannya mengubah solusi yang benar. Dan kandidat yang tidak bertanya sedang memperagakan cara kerjanya di kantor nanti: langsung bikin, tanya belakangan.

Untuk studi kasus non-teknis (product, bisnis, marketing), ini bahkan lebih penting. Soal seperti "gimana caranya menaikkan retensi 20%?" sengaja dibuat kelewat luas. Yang diuji: apakah kamu mempersempit dulu, atau langsung nembak ide.

"Sebelum saya kasih ide — retensi yang mana yang dimaksud? Harian, mingguan, atau bulanan? Dan turunnya di segmen mana? Karena kalau yang bocor pengguna baru minggu pertama, itu masalah onboarding. Kalau pengguna lama, itu masalah lain sama sekali."

Pewawancara yang mendengar itu sudah tahu jawabannya sebelum kamu selesai.

Kalau benar-benar buntu

Ini bukan akhir. Ada urutannya:

  1. Akui, jangan sembunyikan. "Saya mentok." Jauh lebih baik daripada diam sambil pura-pura mikir.
  2. Sebut yang sudah kamu coba. "Saya sudah coba pendekatan A, gagal karena ini. B saya pikir jalan tapi butuh sorting dulu, dan saya belum yakin worth-nya."
  3. Minta petunjuk secara spesifik. Bukan "kasih clue dong", tapi "Saya rasa saya salah di bagian struktur datanya. Arah saya bener nggak?"
  4. Ambil petunjuknya. Kalau dikasih arah, ikuti. Ngotot setelah dikoreksi adalah cara tercepat gagal.

Minta petunjuk bukan kekalahan. Di pekerjaan nyata, orang yang mentok 4 jam lalu bertanya jauh lebih baik daripada yang mentok 3 hari karena gengsi. Pewawancara tahu itu.

Untuk take-home test

Aturan berbeda, dan jebakannya juga:

  • Kerjakan sesuai waktu yang disebut. Kalau disebut 4 jam, jangan kerjakan 20 jam. Mereka membandingkanmu dengan orang yang jujur 4 jam — dan kalau ketahuan (biasanya ketahuan dari kelengkapannya), itu masalah integritas, bukan kelebihan.
  • README lebih penting dari yang kamu kira. Tulis: asumsi yang kamu ambil, yang sengaja tidak dikerjakan dan kenapa, apa yang akan kamu lakukan kalau punya waktu lebih. Ini yang membedakan kandidat senior dari yang cuma bisa ngoding.
  • Tes, walau sedikit. Tidak perlu 100% coverage. Tapi nol tes bilang sesuatu.
  • Sengaja tidak menyelesaikan sesuatu itu boleh — asal ditulis. "Saya tidak menangani pagination karena di luar cakupan waktu; kalau dilanjutkan saya akan pakai cursor-based karena datanya bisa berubah saat dipaginasi." Itu jawaban senior.

Sehari sebelumnya

Jangan menghafal 200 soal. Jangan belajar teknologi baru semalam.

Yang berguna:

  • Latihan mengucapkan pikiranmu. Ambil soal gampang yang sudah kamu bisa, lalu kerjakan sambil bicara keras-keras. Terasa bodoh. Itu satu-satunya cara melatih otot yang benar-benar dipakai besok.
  • Siapkan 2 cerita: sesuatu yang kamu bangun dan kamu banggakan, dan sesuatu yang rusak lalu kamu perbaiki.
  • Tidur. Serius. Interview teknis itu ujian memori kerja, dan memori kerja adalah hal pertama yang hancur karena kurang tidur. Belajar sampai jam 2 pagi merugikanmu lebih banyak daripada yang diberikan materinya.

Setelahnya

Kamu akan keluar sambil yakin kamu gagal. Hampir semua orang begitu, termasuk yang diterima.

Perasaanmu bukan data. Kamu mengingat momen buntu; pewawancara mengingat caramu keluar dari situ.


Bagian tersulitnya adalah mengucapkan pikiranmu sambil ditonton. Mock Interview Kerjago itu tempat melatihnya — sebelum ucapannya diperhitungkan.